September 7 2017

A Different Generation

 

Millennials are a new generation that is born from 1984 and after. Millennials are vastly different from the previous generations, and are facing problems that simply didn’t exist back in the day, but also has opportunities that other generations couldn’t even dream of.

Simon Sinek gives an interesting explanation about millennials and the challenges they we face, and how that we might overcome them.

Millennials as a generations are idealists, they are tough to manage/uncaring of authority, we each want to make an impact on the world. But the most common stereotype is that we’re entitled, that means that we think we deserve/can get anything we want in life, just because we want it.

There are four aspects of why this might be:

  1. Parenting

Most millennials were told from we were young,  that we were special, all the time, and when the moment comes that we realize that each and every one of us were not the special special snowflakes we think we are, it hits hard and its hard to process, and that’s why this generation has lower self-esteem than previous ones.

  1. Technology

The biggest thing that millennials are born into. We are digital natives, our lives are spent with technology always at our side, making tasks that were difficult, time consuming and expensive, into just one touch away. The main thing that comes with technology is the social media; everyone has them. And it has become a such integral thing in our lives, that we can’t imagine life without it.

  1. Impatience

Everything in this day and age is instant. There’s very little things that you can’t get instantly. This is why when it comes to things that can’t be rushed, like meaningful relationships and job satisfaction, most of us don’t have the social coping mechanism to do this. This made many of us so used to Instant Gratification.

  1. Environment

The environment where Millennials work is more concerned  about the numbers than about the person, the year rather than the lifetime. And because of the reasons above, this might be very unsatisfying, causing most of Millennials to change their jobs in just a few months.

But maybe the reason that most millennials aren’t fully satisfied with their lives lies with things that are not their fault. Not because of Facebook or Instagram.

Even though Simon Sinek brought many good points, the many shortcomings are not caused by the Millennial generation ourselves. For example, many of us is struggling with financial situations, that previous generations just didn’t have when they were our age. To even pursue higher education such as college, we need to take a loan, and end up tens of thousand dollars in debt, spending the rest of our lives working several jobs at once to pay it back. Several years back, having one starting job is enough to afford to live a comfortable life, but because of massive inflation,

March 15 2017

Rencana Pembuatan Pasar Papringan

Saat ini, banyak kebun bambu (papringan) di Indonesia terabaikan, bahkan justru dijadikan tempat pembuangan sampah, termasuk kebun bambu di Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung. Padahal, dahulu kebun bambu merupakan tempat yang menarik dan bermanfaat.

Image result for pasar papringan

Pada tahun 2016, sebuah kebun bambu di Dusun Kelingan, Desa Caruban, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung, berhasil “disulap” menjadi tempat yang menarik berupa pasar desa bernama Pasar Papringan. Kondisi papringan di Dusun Kelingan sebelum ada Pasar Papringan Kelingan. Kebun bambu yang kotor dan terabaikan berubah menjadi sebuah pasar yang mewadahi masyarakat setempat untuk menjajakan produk unggulannya seperti kuliner tradisional, kerajinan, hasil pertanian dan lain sebagainya.

Image result for pasar papringan

Keberadaan Pasar Papringan telah tersebar luas di umum; baik warga Temanggung, luar Kota Temanggung, hingga wisatawan dari berbagai negara mengetahui dan berkunjung ke pasar yang digelar setiap 35 hari (selapan) sekali ini. Pasar Papringan telah memberikan manfaat bagi peningkatan ekonomi masyarakat sekitar sekaligus pelestarian lingkungan. Atas dasar itulah para masyarakat Dusun Ngadiprono, bermaksud untuk mengadopsi metode ini dan mendirikan Pasar Papringan Ngadiprono.

Pembuatan Pasar Papringan Ngadiprono bertujuan untuk:

  • Meningkatkan ekonomi masyarakat desa,
  • Melestarikan lingkungan khususnya kebun bambu,
  • Mengembangkan dan melestarikan budaya lokal,
  • Mengembangkan potensi wisata yang ada di desa.

Image result for pasar papringan

Pasar Papringan menggali kembali 2 kearifan lokal yang mulai terlupakan: Papringan dan Jalan Trasah Batu. Pasar Papringan menghidupkan perekonomian desa lewat transaksi jual beli produk produk desa berkualitas baik di setiap gelarannya

Ada apa saja di Pasar Papringan?

  1. Kuliner Ndeso

Makanan sehat tanpa MSG, Pengawet, Pemanis/Pewarna Buatan. Membuat makanan lokal, menggunakan bahan baku sekitar dan menggunakan resep tradisional yang sudah mulai dilupakan. Ramah lingkungan dengan tidak menggunakan plastik, memanfaatkan material alam untuk menjadi kemasan makanan.

Image result for pasar papringan

  1. Kerajinan

Kerajinan lokal berkolaborasi dengan desainer produk dalam mengembangkan produk lokal

  1. Hasil Tani dan Kebun

Memberi ruang untuk masyarakat menjual secara langsung, mengenalkan kemandirian pangan ke masyarakat dan mendorong masyarakat untuk menanam dan memelihara sumber pangan

Masyarakat

Pendirian Pasar Papringan  membantu peningkatan ekonomi masyarakat setempat karena mayoritas penjual di Pasar Papringan merupakan masyarakat sekitar dengan produk unggulan mereka yang telah dibina dan dikurasi, sehingga memiliki nilai jual yang lebih.

Image result for pasar papringan

Budaya

Keberadaan Pasar Papringan akan memicu penggalian kearifan lokal baik dalam bentuk kuliner, kerajinan, tradisi, adat istiadat, kesenian, cerita rakyat, dan lain sebagainya. Hal ini dapat menjaga kelestarian budaya lokal khususnya dan budaya nasional pada umumnya.

Lingkungan

Lokasi Pasar Papringan  berada di area kebun bambu masyarakat Dusun Ngadiprono. Diharapkan dengan hadirnya gelaran Pasar Papringan tersebut, pohon bambu di kebun tersebut akan tetap dipertahankan kelestariannya. Selain itu, kebersihan lingkungan juga akan tetap terjaga.

Image result for pasar papringan

Pemerintah

Pasar papringan berdampak langsung dalam pengembangan desa meliputi bidang ekonomi, sosial, budaya, serta lingkungan sehingga akan tercipta masyarakat desa yang mandiri. Hal tersebut akan sangat membantu pemerintah untuk mempercepat meningkatkan taraf hidup masyarakat desa. Pasar papringan juga bisa menjadi salah satu tujuan wisata berbasis pendidikan dan kelestarian lingkungan sehingga dunia kepariwisataan Indonesia akan semakin maju.

March 8 2017

Visiku Live-in Dalam Temanggung

Salah satu keistimewaan KPB adalah menentukan sendiri apa yang akan dilakukan sebagai proyek mandirinya. Dan untukku, adalah Live-in di tempat yang membawaku keluar dari zona nyamanku. Ini akan membuatku lebih menampilkan kemampuanku dengan maksimal. Durasi dari live-in ini juga tidak main-main, supaya benar benar terasa, rencananya adalah 2 bulan tinggal disana, belajar dari orang orang disana.

Disana aku ingin:

  1. Belajar dari Pak Singgih dan Tim lainnya disana, bagaimana cara mereka dapat melakukannya
  2. Keliling dan jalan jalan di Temanggung, mengambil foto dan cerita cerita
  3. Bantu produksi Radio Magno dan Spedagi, dapat membuat produk dari awal, serta mendesain
  4. Belajar hidup sendiri dengan jangka panjang, dapat dipercaya oleh orang orang sekitar, dan bisa akrab
  5. Menuliskan pengalamanku di jurnal setiap hari, memenuhi satu halaman per hari
March 3 2017

Testimoni Pameran WASANA

Pada pembukaan Art Exhibition WASANA di Cafe Nimna, udara bertiup dengan dingin, awanpun dengan tak lelah lelah menghujani bumi. Anggota-anggota KPB pecicilan kesana kemari, membereskan karya, membersihkan venue, dan menyiapkan sound equipment. Jam 3 pun, masih sangat sedikit orang yang sudah berkumpul di Nimna, beberapa orangtua mengobrol dan membaca katalog karya kami. Tapi ternyata, banyak juga orang yang datang, rela menerjang hujan untuk mengunjungi pameran kita.

Setelah semua undangan telah datang, acara pembukaan WASANA dapat dimulai. Kami banyak menyanyikan lagu, membawakan Artist Talk, dan mengantar para pengunjung untuk melihat karya-karya kita. Suasana di Nimna menjadi cukup ramai, kalau ingin jalan juga harus mengantri. Semua orang terlihat sangat menghargai dan mengapresiasi semua karya dan usaha kita, semuanya dikagumi.

Tentunya, pembukaan WASANA ini belum sempurna, terutama dari respon pihak Nimna, mereka berharap bahwa untuk ke depannya, kegiatannya dapat lebih diperjelas lagi, direncanakan dengan lebih baik, agar dari pihak Nimnanya jelas bisa membantu dimana. Tapi dari Nimna sangat mendukung untuk bekerjasama lebih jauh lagi bersama KPB untuk ke depannya.

Salah satu tanggapan lain adalah, masih terlalu banyak improvisasi dalam membawakan acara ini, sehingga ada beberapa poin penting byang tidak jadi tersampaikan. Untuk penjadwalan juga tidak dibagikan, sehingga banyak orang yang tidak mengetahui apa yang harus disiapkan untuk selanjutnya.

Acara selanjutnya adalah penutupan acara, yang akan diselenggarakan hari Minggu tanggal 5 Maret, dan kita dapat banyak belajar dari pembukaan, apa yang dapat kita perbaiki lagi, supaya acara nanti di hari Minggu (yang pastinya akan mendatangi lebih banyak orang lagi) akan berjalan dengan lancar untuk segala pihak.

February 23 2017

Wabi-Sabi

There is a strong difference between the ideas of beauty in western and eastern worlds. The West always prefers symmetry, proportion, and all around eternal perfection. In Japanese, things are very much different, seeing beauty in impermanence, modesty and in the broken, a term called Wabi-Sabi. In Wabi-Sabi, things are infinitely more beautiful when they bear the marks of individualism and time.

Image result for wabi sabi

A cracked plate isn’t thrown away for a new one, but the cracks are appreciated rather than hid. Wabi-Sabi is shown in tea ceremonies, where the very nature of Wabi-Sabi is displayed and enjoyed. Quite simply, this teaches us to see beauty in imperfection and impermanence, which is an immensely valuable outlook to adopt in everyday lives, we can see it anywhere, in other people, on scattered leaves on your driveway, or the light of a candle, this teaches us the importance of time and life.

Image result for wabi sabi

February 23 2017

Poor Countries vs Rich Countries

 

Image result for rich countries and poor countriesOur world sits in an imbalance, some inhabitants live in countries that is abundant in luxury, comfort and safety, while most of the third world and tropical countries has to struggle every day to survive. Rich countries has an average wealth of 100.000 dollars per person each year, while in some parts in Africa and Asia, people live on under three dollars per day. There are three key factors deciding if a country will be rich or poor:

  1. The Institutions: Very simply, rich countries has good institutions, while poor countries has bad institutions. Corruption is a major component at play, when a country is corrupt, they can’t get enough funds from taxes to build solid institutions such as police, education, health and transport. On corrupt countries, half the nations wealth is corrupted, taking from 10-20 billion dollars each year, trapping the country in poverty.
  2. Culture: A surprising correlation here is between religion and wealth, is that the less the population believes in religion, the richer they have a chance of being. In rich countries, a majority of 70% of people claim that religion is not important at all to them, while in poor countries, almost all the populations are strong believers. Belief is not good for wealth because of the way it makes you think,  that the here and now does not matter and cannot be improved, and our focus should be on going to the next world instead.
  3. Geography: All of the poor countries are located in a tropical zone, where life is very much harder than anywhere else, from sickness, soil quality, connections, bad productivity and the weather, it is very hard to amass wealth here. Transport is a huge problem as well for poor countries, they are very badly connected to one another, even landlocked in some cases.
    1. Natural Resources: An infuriating fact, poor countries usually has the most natural resources than any other rich countries could ever dream to have, this abundance of natural resources will make a country with good institutions richer, and a country with bad institutions poorer. This is called “The Resources Trap”, this can happen because corporations from rich countries can just take whatever resources they want from the poor countries without the needs of society’s acceptance and permission.

 

 

February 23 2017

The Perfect Country – School of Life

It seems impossible, even foolish to think that there can be a truly perfect country to live in, but in shaping the perfect Utopia, we can take lessons on how our world should have been.

  1. The Economy: We are commited and fullfiled with our work, doing something that genuinely feel like we are doing something meaningful at the end of every day, improving the lives of others. To shape people like this, people are taught the importance of character from an early age, determining what kind of work is most suited to each person, cultivating their maximum potential is the country’s top priority.
  2. Celebrities: Famous people in the perfect land are shining examples of qualities we need in everyday lives such as intelligence, respect, compassion, etc…
  3. Education: Our curriculum is reverse-engineered from actual life itself, not wasting time and resources on teaching unimportant, random subjects.
  4. Childhood: Everyone is given training classes on how to raise a child properly, so that a bad childhood can be a thing of the past.
  5. News: The news are brought to you by philosophers, providing a wise lesson that can be taken in world events. The purpose of news is to guide people and the country on the best course of action on making the country a better place.
  6. Religion: In the perfecr country, people are sympathetic to what religions used to stand for, ehich are community, morals, and kindness.
  7. Arts: Being an artist is a job that serves a very practical purpose, to make important ideas pop out, so that the whole community can be inspired. “Art is there to remind us to be forgiving, calm, and open to experience”
February 23 2017

Serenika?

Tantangan yang berat semester ini untuk K11, adalah menciptakan suatu komunitas yang bermanfat bagi banyak orang. Dari awal, sangat terasa bahwa ini akan menjadi tugas yang cukup berat, diskusi dan debat saat menentukan topik yang cocok berlangsung sangat lama, dan banyak terulang. Ide awal kami untuk membuat komunitas anti-bullying ternyata dengan cepat runtuh saat kami menyadari bahwa isu yang kami pilih ternyata sama sekali kami tidak kenali. Setelah mengevaluasi kembali kemauan kita, kami mencoba untuk mencoba mengambil topik yang selama ini kita sudah sering lakukan; musik. Angkatan K11 ini dari dulu sudah tampak bahwa dari dulu, kekuatan untuk bermusiknya sangat kuat, dari dulu kita sudah pernah membuat banyak lagu, album, dan diundang untuk tampil di berbagai event. Musik menjadi salah satu identitas utama dari K11.

Serenika, yaitu campuran dari serenade dan dinamika, bertujuan untuk memberi ruang berekspresi bagi anak muda melalui musik.  Tapi karena kami belum memiliki cukup waktu dan tenaga untuk benar benar menkonkritkan segalanya, banyak persepsi yang masih berbeda dari antara kita, sehingga Serenika masih belum memliki fondasi yang baik. Ini terlihat sangat jelas saat kami mempresentasikan komunitas ini di depan beberapa panelis. Kami mendapat banyak saran baik untuk memikirkan cara kita dapat menggunakan “Serenika” ini.

February 23 2017

Eastern Philosophies: Wu Wei

“The Way never acts, yet nothing is left undone”

-Dao De Jing-

Image result for taoism

Wu Wei (non-doing) is a fundamental concept that is part of Taoism (The Way). Wu Wei doesn’t mean not acting, but effortless actions, doing our activities while being at peace, thus carrying them out with maximum skill and efficiency. This concept is inspired by nature, that we should be more like water, “submissive and weak, but can be surpassed for attacking what is hard and strong, through gentle persistence and compliance with a specific shape of a problem, an obstacle can be worked around and gradually eroded”. It appreciates not only the end result of and activity, it also deeply appreciates the process. Wu Wei can be a very important concept that we can apply to our everyday lives, because it teaches us to act in ways that we seldom do.

February 22 2017

Why Socrates Hated Democracy

In Greece, the original pillars of mankind, the peak of human civilization, there comes two important achievements: Philosophy and Democracy. These two ideas do not mix very well back then, Socrates was pessimistic about the process of democracy. He compared society to a ship, if you were going to sail out to sea, who do you want to be in charge of the vessel? Any random person, or a highly trained and intelligent captain. skilled in seafaring? Why then, should any old person is fit to judge who should be the ruler of the country? Socrates states that voting on elections should be a skill, not blind intuition.

Letting uneducated people to vote can be irresponsible and dangerous. Socrates doesn’t think that only a select few people can vote, but people who has thought about the choices rationally and deeply, can vote. “We have forgotten this distinction between an intellectual democracy, and a democracy by birthright. We have given the vote to all, without connecting it to wisdom” this system can be manipulated into demagoguery, where the uneducated masses can be manipulated into casting their votes by sweet lies and hollow promises.

“We have preffered to talk about democracy as an unambiguous good – rather than something that is only ever as effective as the education system that surrounds it”

February 22 2017

Why Humanity Destroyed Itself

Human beings are the most troublesome and irritating creatures on earth. We have ultimate control over the planet’s resources, but no control over ourselves, we have the power and knowledge to solve the problems we are facing in an instant, but choose not to do so. We are capable of living with kindness and compassion for others, but always let hate and prejudice win. If humanity will one day be wiped out from the face of the earth, the answer might be found in the way we think.

The human brain, an amazing organ, contains over 100 billion neurons, able to think in extraordinary ways that no other creatures has done before, capable of reshaping the entire world as we see fit, ever pushing the boundaries of what’s possible. There is a part of the human brain that is primitive, but hugely influences the way we think and make choices, called “The Reptilian Brain”, the “animal” part of us. The Reptilian Brain causes three problems in the way humans think and act;

  1. Tribalism: Humans has always had strong hatred for others that are different than themselves, and tend to use violence and slaughter other foreigners, unable to see that we are all part of one.
  2. Short-Term Thinking: We always make decisions that we see will profit instantly, never looking the consequences that may happen in the future. We see the future as an unreal and random occurence, thinking that everything’s fine, even if we know for a fact, that it’s not going to be.
  3. Wishful Thinking: “We prefer to act rather than think, and daydream rather than plan”, we are unwittingly drawn to endless distractions and fantasies. “The brain doesn’t want to know itself”

With our knowledge and god-like power over Earth and it’s inhabitants grow larger and unchallenged, “Its powers became uncontained while its wisdom remained intermittent and fragile, eventually, its might outpaced its capacity for self-control, Humans became a nuclear armed rodent.”

To save humanity from gradual destruction, we have something that no other beings have; love.

  1. Love of the Stranger: Seeing each other as people worthy of the same mercy and kindness as themselves.
  2.  Love of the Unborn: Caring for those futures we might risk from our own selfish actions.
  3.  Love of the Truth: Accepting and dealing with the truth, no matter how grave. Seeing past all the lies and illusions that is fed to us.

Humans are capable of change. We can decide what kind of future we want for ourselves and others. Let’s shape the future that we want our children and grandchildren to live in. And we can start right now.

February 8 2017

The Search for True Sound

Everyone enjoys listening to music every once in a while. One of the most used ways to experience it is through headphones. There are plenty of people who want to search for the very best sound, with no compromises; these people are called audiophiles, you can tell them apart from regular people by their dislike of hugely marketed audio companies (e.g Beats, etc…), they can tell apart regular mp3 files with high quality lossless files, and their insatiable thirst to basically find “the one” pair of headphones. Most people are content with listening to low quality mp3s on stock earbuds or laptop speakers, while audiophiles dream to have an high-end rig of headphones, DAC/amp, and libraries of high quality music files.

Now, the world of finding the best audio experience is very wide and confusing sometimes, with audiophiles everywhere defending their favorite ‘cans’ with passion. This happens because everyone’s ears and tastes are different, what sounds good for you might not for someone else, and vice versa. This makes the journey a long one, and one problem with having heard high quality audio, is that nothing can ever satisfy you.

There are many types of headphones, the most distinguishing types are Closed-back and Open-backed headphones. Open back headphones has no barrier in the outside earphone cup, making the driver exposed to the outside world, allowing the soundstage (where sounds seem to come from beyond the headphone) wider and making the experience more spacious. The downside to this is that you can hear outside noise quite clearly, and someone sitting next to you will definitely know what you’re listening to, so this type of headphone is not for traveling, mostly suited to a quiet listening environment. Most headphones are closed back, which means that outer shell of the headphones is completely closed, providing good sound isolation (you cant hear outside sounds and they cant hear you) also allowing more detailed sound. The downside to this is the music you’re listening to sounds more confined in your head. narrowing the soundstage.

Other important aspects are comfort, design, impedance (how hard the headphones is to power), and of course, cost. Headphones can range from really cheap to ridiculously expensive, you can find gems on the cheaper side, and terrible ones even on pricier pairs. So price definitely does not determine performance.

There are on-ear and over-ear headphones. On-ears are smaller, and sits on your ears, while over-ears are bigger and cover all of your ear, touching your head.

To describe the sound of the headphones, usually they use the terms ‘bass, mids and highs’

Bass: Describes the lower frequencies (20-350 Hz), headphones with an emphasis on bass are described as ‘dark’ if there is so much bass that it overpowers the mids and highs, the headphones are considered ‘muddy’ examples of bass: drums, bass, baritone.

Mids: Describes the middle frequencies (350-4000Hz), e.g: most vocals, viola, tenor, alto, etc…

Highs:Describes the high frequencies/treble (4000-20000Hz), headphones with an emphasis on highs are described as ‘bright’, if the highs are shrilly, the headphones are considered ‘sibillant’ examples of highs: soprano, violin, cymbals.

Everyone has different preferences, the ones that like hard-hitting, punchy bass, the ones that prefers less bass and more mids and highs, or want a completely balanced, neutral, and true sound. Another important thing to consider is, no matter how good the headphones are, the audio files are important too, low quality recordings may not sound so different when comparing higher end headphones to stock earbuds, but a FLAC lossless audio files on a good pair of headphones are eye-opening.

There are many audio companies that make headphones, some of them are well-loved (Sennheiser, Audio-Technica, Grado), some of them are hated (Beats, Bose, Skullcandy, etc…), but most of them are hit-or-miss.

Of course, there are alternatives to headphones, like earphones or speakers, which can be great too.

There’s so much more to discover here, and putting on the right headphones is always a revelation.

January 25 2017

Pengenalan Filsafat bersama Pak Bambang Sugiharto

Kali ini tanggal 25 Januari tahun 2017, KPB berkesempatan untuk bertemu Pak Bambang, seorang dosen yang mahir dalam bidang Filsafat. Narasumber Kelas Semesta ini diajukan oleh Benita, yang telah menghadiri diskusi Filsafat Musik bersama Pak Bambang. Ternyata, beliau sudah lama sekali berkecimpung dalam filosofi, berspesialisasi dalam filsafat seni dan filsafat kontemporer. Hal pertama yang ia ajarkan kepada kita adalah bahwa Filsafat itu ialah induk dari segala pengetahuan. Jaman dahulu, filsafat dipecah menjadi dua cabang, yaitu IPA/Trivium (Aritmatika, Geometri dan Musik), dan IPS/Quadrivium ( Retorika, Logika dan Sejarah), lalu dari situ, dipecah lagi dan lagi, sehingga menjadi sistem edukasi yang kita kenal sekarang.

Filsafat itu dasarnya memberi pertanyaan yang tidak dapat dijawab seperti ilmu yang lain, karena filosofi itu bukanlah ilmu yang pasti, tidak memiliki bukti, dan mengandalkan kemampuan kita untuk bertanya. Filsafat itu bertujuan untuk merenungi pertanyaan pertanyaan hidup yang dalam. Basis yang dipakai dalam filsafat ini ada dua, Penalaran/pemikiran, dan juga pengalaman.

Ada beberapa bidang Filsafat yang lebih spesifik; yaitu:

  1. Philosophical Anthropology (Membahas Manusia)
  2. Theodicea (Membahas Tuhan)
  3. Epistemology (Mendiskusikan kebenaran dan pengetahuan)
  4. Aestethic (Keindahan)
  5. Ethics (peraturan dan norma)
  6. Metafisika/Ontology (“Ada” itu apa?)
January 25 2017

The Rise and Fall of Civilization

I have been reading “The Turning Point” by Fritjof Chapra, and even in the first few pages, I recieved countless amazing new information, perspectives and my view on reality. This book explains that right now, the entire world is going through a huge process of cultural evolution, and by understanding it, we can determine the best course of action so the world may flourish into a beter place.

All across the span of numerous human civilization, there has been a recurring rhythm of cultural growth and transformation, all of this is regarded as a part of the fundamental dynamics of the Universe. Once a civilization is at it’s peak, they would start to lose cultural growth and begin to decline. An important part of this cultural breakdown is a loss of flexibility. This means that social structure, laws and behaviours has become so rigid, that society can no longer respond and adapt to the ever-changing situation. It won’t be able to carry on the creative process of cultural evolution. 

However, during this process of declining creativity, society’s ability to respond to challenges is not completely lost. Although the cultural mainstream will become petrified, clinging to fixed ideas and resorting to a very rigid behaviours, creative minorities will appear and act , carrying on the vital process of challenge and response.  In the beginning, the dominant social institutions will refuse to hand over leading roles to these new cultural forces, but they will inevitably disintegrate in time, leaving the creative minorities to implement new ideas into society, transforming some old elements into new configurations. This allows the process of cultural evolution to continue, under new circumstances, and lead by new protagonists. 

 

January 18 2017

Leave your Mark

A thousand years from now

When today is a forgotten memory

In a world that seems like another

Will you still live on?

What can you do now to be remembered,

To leave a legacy,

Place your mark on history

So they will they tell your story?

 

January 18 2017

Kepergian Teman Kita

Hari terakhir berkegiatan bersama Didda

Beberapa bulan telah lewat dengan Didda (Pertukaran Pelajar dari Iceland) berkegiatan dengan KPB. Rencananya, Didda akan belajar di Indonesia selama setahun sebelum kembali lagi ke negaranya. Tetapi karena ada beberapa masalah yang muncul, ia memutuskan untuk kembali ke Iceland lebih awal. Aku menghargai keputusannya, dan pasti ada banyak alasan valid yang digunakan. Tapi sangat disayangkan bahwa Didda baru menjalankan setengah dari apa yang seharusnya didapatkan. Menurutku banyak sekali pengalaman dan orang yang belum ditemui yang dapat “mendefinisikan” Indonesia.

Kenang kenangan Gundam dari Krisna

Dalam hari terakhir berkegiatan, kita semua ada sharing bagaimana kesan dan pesan kita terhadap Didda, dan semua orang juga mensayangkan bahwa dia pergi lebih awal dari yang kita harapkan. Semua respon dari teman teman cukup positif, dan kesan yang didapatkan dari Didda adalah bahwa Didda masih banyak menyimpan hampir semua pemikiran dan perasaanya di dalam, dan jarang mengobrol dengan orang lain. Tetapi sangat menyenangkan ketika sudah memulai obrolan seru.

Setelah ini juga kita mengajak Didda untuk keliling Bandung untuk terakhir kalinya sebelum besok pergi, aku, Cissy, Alry, Benita, Ray dan Didda pergi ke jalan Sudirman untuk “wisata kuliner” Disana kita juga memberi kenangan T-Shirt custom khusus buatan kita, yang didesain dan disablon kemarin.

 

January 10 2017

Learning Naturally with the World

Hari kedua dalam semester kedua di KPB, kami berkumpul kembali di Taman Cibeunying, yang gampang dikenal dengan Robot robot yang dipajang di depannya. Di seberang taman ini ada sebuah guesthouse yang bernama Selaras Guesthouse. Orang yang memliki tempat ini adalah teman Ka Agni, dan telah meluangkan waktu untuk berbagi pengalamannya membangun Selaras Guesthouse dengan KPB.

Disana, kami disambut oleh Kang Wibi, sang wirausahawan muda yang mendirikan Selaras. Ia menyambut kami dengan ceria, dan membawa kami dalam tur keliling Selaras Guesthouse. Selaras memiliki 11 kamar yang dapat disewa, dan 26 staff member, Ternyata Selaras itu awalnya adalah rumah yang dibangun oleh keluarga dari Belanda, sehingga memiliki ciri khas arsitektur mereka, seperti pintu tembus dan adanya kamar mandi ‘basah’ dan ‘kering’. Rumah ini dirubah menjadi guesthouse dari tahun 2007-2009.

Kang Wibi menjelaskan bahwa semua elemen yang dipakai disini didesain sehingga dapat terpadu dan tetap menjaga keunikan, berjalan selaras. Selaras memfokuskan diri dalam membuat suasana yang “homy” dan nyaman, dan tidak mengorbankan fasilitas seperti di hotel.Keunikan lain dari Selaras Guesthouse adalah adanya taman yang cukup luas, yang mengundang banyak satwa seperti burung dan tupai, padahal lokasinya ini sangat di tengah kota.  Kang Wibi berusaha sangat keras untuk mewujudkan mimpinya, dan setelah bertahun tahun, Selaras Guesthouse telah menjadi tempat yang sukses dan ternama.

 

Setelah kami mendapat banyak cerita dari kang Wibi, kami berpindah lokasi ke Eiger di Jalan Sumatera untuk sedikit olahraga Bouldering. Disana kami juga bertemu Ka Kwecheng yang menunjukkan kepada kita cara memanjat yang benar. Terlihat sangat ringan ketika Ka Kwecheng mencontohkannya,  tetapi saat kita semua coba, langsung sangat kesulitan. Menyenangkan dapat mencoba lagi bouldering, semoga berikutnya sudah lebih berpengalaman memanjatnya.

Setelah bouldering kami menonton beberapa video pendek mengenai pendidikan dan spiritualitas. Video yang berjudul Worldschooling menceritakan tentang ibu-anak yang berkeliling dunia secara langsung dengan tidak punya modal apa apa, mengandalkan survival dan kemampuan melebur dengan masyarakat lokal disananya. Ternyata dengan langsung mengalami tempat dan bertemu orang baru, hal yang dapat dipelajari itu tak terbatas. “The World is the biggest Classroom”

January 10 2017

Hiking di Tahura

Hari pertama dalam KPB Semester 2, pagi hari kami semua berkumpul di Tahura. Setelah liburan panjang, beberapa penampilan ada yang berubah, Ray rambutnya diikat ke belakang, Qintara mempunyai poni, Alry rambutnya dipotong, dan Ka Agni kembali menggunakan model botak.tampaknya semua bersemangat untuk  kembali berkegiatan. Sebulan dengan tidak melakukan apa apa juga membuatku ingin kembali berpetualang. Suasana di Tahura di pagi hari dingin dan sedikit berkabut, dialuni suara jangkrik dan juga seorang pengamen.

Setelah kami masuk, Ka Agni dan Ka Leo bilang bahwa kita akan hiking yang rada jauh. Aku mah senang saja, sudah lama aku tidak jalan jalan di hutan. Di Tahura terdapat beberapa tempat wisata, seperti Goa Jepang dan Belanda, serta curug curug yang tersebar di sekitarnya. Selama kami jalan, aku melihat beberapa satwa yang masih tinggal disini, seperti monyet dan tupai.

Selama kami berjalan, canda tawa memenuhi udara, membuat kami menjadi tidak terlalu lelah. Kami berjalan melewati hutan Pinus yang lebat, gua yang gelap dan bau, dan jalan setapak yang becek dan berlumpur. “Janganlah meninggalkan apapun selain jejak kaki”

 

Sampailah kami ke sebuah jembatan di sebelah curug. Terlihatnya sangat jauh dari atas sampai sungai di bawah, dan kabut air terkena sinar matahari membuat pelangi yang mewarnai udara. Setelah kami menyebrang jembatan, sampailah ke tempat peristirahatan, disana kami mendiskusikan tentang gambaran semester ini bagaimana. kami juga mendiskusikan tentang beberapa kebiasaan baru. Selalu menjadi misteri masa depan itu, tetapi aku yakin bahwa dalam KPB pasti dapat banyak sekali pengalaman yang akan didapat.

November 13 2016

The Magic of Pascal Triangle

                                                1
                                             1     1
                                          1     2     1
                                       1     3     3     1
                                    1     4     6     4     1
                                 1     5    10    10     5     1
                              1     6    15    20    15     6     1
                           1     7    21    35    35    21     7     1
                        1     8    28    56    70    56    28     8     1
                     1     9    36    84    126   126   84    36     9     1
                  1    10    45    120   210   252   210   120   45    10     1
               1    11    55    165   330   462   462   330   165   55    11     1
            1    12    66    220   495   792   924   792   495   220   66    12     1
         1    13    78    286   715  1287  1716  1716  1287   715   286   78    13     1
      1    14    91    364  1001  2002  3003  3432  3003  2002  1001   364   91    14     1
   1    15    105  455   1365  3003  5005  6435  6435  5005  3003  1365   455   105   15     1
1    16    120   560  1820  4368  8008  11440 12870 11440 8008  4368  1820   560   120  16     1

“The Patterns in Pascal’s Triangle are a testament to the elegantly interwoven fabric of mathemathics”

Video ini bukan Ted Talks seperti biasanya, Ted-Ed adalah samcam cabang dari Ted Talks, yang fokus dalam memberi informasi dan pelajaran baru dalam bentuk visual dan animasi. Video ini membahas tentang Segitiga Pascal, hal yang menakjubkan di dalam dunia Matematika. Saat dulu aku belajar tentang Segitiga Pascal, aku tidak terlalu mengerti atau peduli tentang gunanya, tapi setelah menonton video ini, aku sadar bahwa segitiga ini sangat ajaib. Diibaratkan sebagai harta karun tersembunyi matematika, Sampai sekarang, ahli matematika masih mencari dan menemukan cara cara baru untuk menggunakan Segitiga Pascal. Segitiga Pascal dapat membuat perhitungan sulit menjadi lebih mudah, karena banyak sekali jalan pintas yang dapat diambil dengannya.

Aku tertarik dengan video ini karena minggu lalu saat belajar matematika aku sempat mendengar jalan pintas yang dapat ditempuh.Sampai sekarang, ahli matematika masih mencari dan menemukan cara cara baru untuk menggunakan Segitiga Pascal, segita ini dapat digunakan untuk mencari koefisien, mendapatkan pola, menghitung perkalian dan kuadrat dengan cepat, probabilitas dan masih banyak lagi. Aku masih belum 100% mengerti cara menggunakan segitiga pascal, tetapi menurutku jika benar benar dapat kita gunakan, akan sangat mempermudah banyak persoalan matematika.

Yang menarik mengenai Segitiga Pascal adalah, masih banyak rahasia yang disimpannya, mungkin kita yang dapat menemukan rumus baru yang dapat diterapkan disana.

Ted-Ed sangat menarik setelah aku menonton beberapa videonya, gaya animasi memberi elemen visual yang banyak membantu untuk mengerti persoalan rumit, juga membuat topik yang dibahas menjadi lebih menarik. Ted-Ed dapat menjadi sumber informasi baru yang berguna untuk ke depannya.

October 23 2016

Kegiatan Magang Minggu 8

Setelah riset minggu lalu, data tersebut harus diolah. Jadi hari Rabu ini aku diberi banyak data mengenai berbagai UKM yang telah dikontak, lalu diminta untuk menyusun semuanya di Excel. Dalam membuat daftar ini, terasa sekali bahwa melakukan kontak sukses bersama UKM yang sudah siap ekspor itu sangat sulit. Hal lain yang membuat rumit adalah, kebanyakan UKM Sepatu dan Garmen itu membuat barang mereka sendiri langsung, tidak menggunakan makloon atau rantai produksi lain. Sehingga solusi permasalahan yang ditawarkan Akatiga susah untuk diterapkan.

Kerjaan yang aku lakukan lagi saat magang adalah membaca semua koran dari minggu kemarin, dan mencari artikel yang berhubungan dengan topik penelitian Akatiga, lalu memfoto artikel yang ditemukan dan upload ke google drivenya Akatiga, agar bisa dibaca oleh semua orang untuk semua waktu. Masalahnya dalam mengumpulkan artikel koran adalah, banyak sekali koran dari berbagai publisher, sehingga mencari cerita yang relevan menjadi sangat sulit dan menghabiskan waktu. Terlalu lama membaca tulisan tulisan di koran, dan lama kelamaan semua cerita seakan menjadi sama.

Aku sudah menjadi lebih nyaman bersama peneliti lainnya, banyak mengobrol dan bercanda bersama. Banyak topik bahasan yang dapat dibicarakan bersama. Pekerjaanku juga menjadi lebih jelas, dan aku sekarang tidak kekurangan tugas, karena banyak sekali orang yang meminta bantuanku. Waktu juga tak terasa, ketika aku fokus kepada pekerjaan, waktu seperti lompat lompat, tiba tiba sudah makan siang lagi, dan setelah itu tiba tiba sudah waktu pulang lagi. Mungkin ini adalah pertanda baik karena tidak terlalu bosan mengerjakannya.

October 23 2016

Words I Live By

Sering terjadi momen dalam hidupku, dimana aku bingung dalam memutuskan pilihan, di saat saat itu, pasti ada beberapa perkataan yang selalu terlintas di kepalaku, untuk mempermudah keputusanku. Ini adalah beberapa darinya:

“Sadar Diri, Sadar Lingkungan, Sadar Tujuan”

“The more you know who you are, and what you want, the less you’ll let things upset you.”

“You get what you give”

“However dark the storm is now, it will always pass”

“Even a stone can be a teacher”

“Only a life lived for others is a life worth living”

“Never Waste an Opportunity”

“Edankeun Lur!”

October 16 2016

Memberi Kuesioner di Kebon Pisang

KPB memiliki kesempatan untuk membantu sebuah program perubahan kebijakan mengenai pengelolaan sampah di Bandung. Salah satu lokasi pengambilan data adalah di Kebon Pisang, Cibunut. Jadi, KPB harus membagikan 46 kuesioner. Karena K11 ada 7 anggota, satu orang harus 6 kuesioner. Ada pembagian daerah agar ruang sampelnya luas.

Aku kebagian RW9, dan responden pertamaku adalah seorang nenek nenek. Karena yang dicari demografi yang luas, menurutku ini adalah awal yang baik dan beragam. Tapi setelah beberapa pertanya, menjadi jelas bahwa nenek ini tidak tahu banyak mengenai urusan rumahnya, dan juga tidak terlalu mengerti pertanyaan yang diajukan kuesioner. Sampai di tengah tengah kuesioner, terlihat sudah resah nenek tersebut, dan dia bilang harus pergi masak karena sudah siang. Aku sangat kecewa karena baru setengah yang diisi, membuatnya menjadi tidak valid.

Setelah kegagalan itu, aku keliling mencari orang yang terlihat terpercaya dan juga memiliki waktu luang. Aku bertemu dengan seorang bapak bapak yang bersedia membantuku. Kami banyak berdiskusi, dan ia menceritakan kepadaku mengenai situasi pengurusan sampah di sekitar rumahnya yang belum terlalu baik. Secara keseluruhan, yang kedua berjalan cukup lancar.

Responden ketiga yang kutemukan juga seorang bapak bapak, kali ini aku dipersilahkan masuk ke dalam rumahnya, dan ditawari minum dan rokok (yang secara sopan kutolak). Kali ini, kuesionernya ia isi sendiri, tidak perlu kubacakan atau diskusikan, sehingga banyak menghemat waktu.

Selesailah dua responden (karena yang pertama gagal) Maka aku kembali ke Sekre dan menunggu teman temanku yang masih berkeliling. Setelah berkumpul semua, Bu Tini mengajak kami ke pertemuan di Kelurahan, karena kami masih mempunyai banyak waktu, dan juga ibu ibu dari berbagai RW akan hadir, tetapi setelah sampai disana, ternya kami terlambat, dan pertemuannya sudah mulai, sehingga kami menyebar lagi untuk mencari responden lain.

Karena sulit mencari orang di RW 9, aku bersama Natasha mengelilingi RW 6, dekat jalan Baranangsiang. Orang disini sangat mudah untuk diajak mengobrol, dan terlihatnya sangat paham mengenai isu persampahan di kota Bandung, mengisi kuesionernya dengan cepat dan efisien, membuatku menghabiskan jatah kuesionerku, yaitu 6.

October 16 2016

Akhirnya Bepergian

Kabar gembira untukku magang minggu ini, akhirnya kegiatanku dilakukan diluar. Ajakan ini mendadak, aku ditawarkan untuk membantu Ka Santi dalam mengambil data mengenai berbagai UKM sepatu di seluruh bandung. Tujuan dari survey ini adalah mengetahui mana saja UKM yang sudah mengekspor, atau sudah siap untuk mengekspor, serta rantai produksi mereka. Daerah yang rencananya akan ditelusuri adalah, Cibaduyut, Kopo, dan Taman Holis. AKu pergi dengan Ka Santi dengan mobil yang disupiri oleh Pa Adang.

Aku sangat bersemangat karena ini pertama kalinya pengalamanku untuk riset lapangan bersama Akatiga. Kami pertama pergi ke Cibaduyut, yang terkenal dengan baris demi baris toko sepatu dan perusahaan alas kaki. Yang kami cari bukan toko toko di pinggir jalan, tetapi UKM sepatu di gang kecil belakang Cibaduyut. Toko pertama yang kita temukan bernama Linda Shoes, sebuah perusahaan keluarga. Agar informasi yang kami cari dapat, kami berpura pura menjadi klien yang tertarik untuk membeli sepatu disana, banyak basa-basi dan diskusi mengenai sepatu yang dibuat disana, dan jika kesempatannya benar, kami menanyakan pertanyaan yang penting mengenai kemampuan ekspor. Walau memiliki beberapa klien di luar negeri, Linda Shoes belum memiliki kemampuan dan koneksi untuk mengekspor secara masal.

Ternyata sepatu yang dipajang di beberapa toko datang dari sebuah pabrik yang letaknya persis di Cibaduyut. Untuk pabrik besar ini, Aku dan Ka Santi berpura pura menjadi Mahasiswa jurusan Ekonomi dari UNPAD yang sedang ada tugas mencari data untuk menulis skripsi. Ternyata pabrik yang bernama Garsel ini adalah satu satunya pabrik besar sepatu yang terletak di Cibaduyut. Pabrik ini memproduksi sepatu sports dari berbagai brand, dan sepatu jenis lain dibuat oleh partner mereka, Trekking. Kami juga mencari beberapa UKM kecil yang membantu menyediakan bahan dan bagian untuk pabrik besar ini, jadi banyak sekali jalan mutar mutar keliling Cibaduyut. Toko Garsel mempunyai sistem yang unik. yaitu meilhat katalog dulu, lagi menuliskan kode model yang diinginkan, lalu diambilkan oleh staf. Walau dengan sistem aneh ini, toko Garsel penuh dengan pelanggan yang sibuk bolak balik mengambil tumpukan sepatu dengan model yang berbeda beda, lalu membelinya, beberapa pasang sekaligus.

Setelah ini, rencananya adalah mencari UKM Garmen, tetapi setelah keliling keliling mencari, tak ada yang cocok dengan apa yang kami cari. Maka terus mencari UKM sepatu. Ada satu perusahaan yang kami berusaha untuk tanya tanya sebagai peneliti dari Akatiga, tetapi entah kenapa dijawabnya sangat singkat singkat, dan banyak yang dirahasiakan oleh mereka. Mungkin mereka kira informasi yang kita minta dapat digunakan oleh perusahaan saingan, atau memang tak mau mengungkapkan cara kerja mereka.

Sangat menyenagkan hari ini, aku banyak belajar dalam sebenarnya susah juga menjadi peneliti, dan untuk mendapat hasil yang diinginkan harus banyak sekali usahanya, dan pantang menyerah.

October 9 2016

Magang Minggu Keenam

Minggu ini aku ke Akatiganya hari Rabu dan Kamis saja karena pada hari Rabu aku diperlukan, sehingga pada hari Jumat aku tidak perlu datang. Ada setumpuk data fisik yang harus diolah. Riset yang kubantu masih mengenai Ekspor UKM, dan penelitian ini sudah mendekati akhir tahap pertamanya, yaitu pencarian data dan perencanaan.

Yang hari itu aku bantu olah adalah mencari kesamaan UKM dari beberapa sumber informasi untuk mencari apa saja perusahaan yang sudah cukup dikenal dan diakui oleh berbagai pihak untuk menambah kesiapan untuk ekspornya. Mencari kesamaan di berbagai dokumen lama lama melelahkan dan membingungkan, terutama jika tidak memiliki strategi untuk mencarinya. Tak cukup hanya sekedar mencoba untuk menemukan kesamaan, karena sudah hampir pasti ada yang terlewat.

UKM yang terdaftar di tiga dokumen aku tandai dengan stabilo hijau, dan yang hanya terdaftar di dua akan diberi warna kuning. Ternyata tidak banyak perusahaan yang terdaftar di semuanya, bahkan yang dua saja sudah sulit untuk dicari. Akhirnya, setelah berjam jam ditelaah, ada cukup banyak kesamaan yang kutemukan, tapi ternyata masih sangat banyak UKM yang tak ada kesamaannya.

Hari Kamis ada dari K10 yang datang ke Akatiga dari Sekepicung untuk mengerjakan beberapa tugas. Akatiga jadi lebih ramai, dan aku jadi lebih banyak mengobrol dan tertawa.

October 2 2016

Belajar Kimia bersama Bu Tini

Hari Selasa ini di Taman Bagus Rangin, saat belajar bersama Bu Tini, topiknya adalah kimia. Ini adalah pertama kalinya dimana kami belajar topik selain matematika, jadi sangat menyegarkan untuk mencoba hal lain. Ternyata kami dasarnya kimia sudah cukup paham, tetapi begitu masuk ke permasalahan yang lebih rumit, mulai kesulitan. Kami hari itu fokus di unsur unsur 1A-8A di tabel periodik, serta cara menghitung proton, neutron dan elektronnya agar dapat mencari tahu posisi unsur tersebut di tabel periodik. Kami juga belajar akan perubahan yang dialami unsur ketika tercampur menjadi senyawa, sangat menarik membahas berbagai kemungkinan kombinasi unsur bersama Bu Tini.

Peristiwa lucu yang terjadi disana, adalah Alry yang sudah niat ngeprint beberapa lembar tabel periodik, tetapi ternyata hanya penampilannya saja yang mirip tabel periodik, isinya hanya berbagai istilah desain, membuatnya menjadi tak berguna. Ternyata ia hanya mencari yang kelihatannya bagus saja, tidak teliti akan isinya betul atau salah.

Kimia menarik bagiku karena dapat membahas hampir semua hal di sekitar kita, terbuat dari apa, sifatnya seperti apa, dan dapat bereaksi seperti apa saja. Orang yang dapat memahami kimia dapat jauh lebih mengerti tentang cara bekerja dunia. K11 belum terlalu banyak berpengalaman dengan kimia, dulu hanya diajari secara singkat untuk menghadapi UN SMP. Penasaran, ingin mencoba bekerja di laboratorium, mencoba mencampurkan unsur dan senyawa untuk mendapatkan reaksi kimia yang dahsyat.

Ada banyak topik lain yang dapat kami pelajari, seperti fisika, tetapi semuanya ada waktunya, akan digilir antara matematika dan IPA oleh Bu Tini setiap hari Selasa. Minggu depan Bu Tini sudah menetapkan bahwa akan ada semacam ulangan matematika, untuk memastikan bahwa kami tidak lupa materinya. Jika tahu untuk apa kami pelajari hal seperti ini, ternyata aku dapat menikmati pelajarannya.

 

October 2 2016

Magang Minggu Kelima

Hari Kamis ini di Akatiga, Ka Santi tidak masuk, jadi aku tidak bisa membantunya dengan pekerjaan yang sudah diberikan kepadaku. Jadi hari itu aku banyaknya mengerjakan tugas tugas sekolahku yang lain. Masih banyak sekali hal yang harus dibereskan. Hari hari ini sudah mulai tidak terasa berjalannya waktu, duduk di kursi, dan saat melihat jam, tiba tiba sudah maju beberapa jam. Mungkin ini terjadi karena aku sangat konsentrasi ke pekerjaanku, atau sangking tidak fokusnya, sampai tidak sadar jalannya waktu. Semoga saja lebih ke pilihan pertama. Suasana kerja disana sunyi sekali, semuanya fokus kepada tugas dan layar laptop masing masing.

Hari Jumat, jalanan cukup macet, angkotnya merayap menyusuri Bandung. Untungnya aku tidak terlambat datang karena aku selalu pergi lebih awal. Akatiga pada jam 8 masih sepi, beberapa ruangan juga masih gelap. Koran pagi aku baca, sekaligus juga yang hari-hari sebelumnya. Semua tulisan dan artikel yang berhubungan dengan  topik bahasan Akatiga aku tandai dengan stabilo biru. Setelah selesai membaca dan mengolah koran, aku mulai meneruskan tugas yang dapat aku kerjakan

Karena hari Jumat ada musik sore di Smipa, aku sudah meminta izin ke teman teman Akatiga untuk pulang lebih awal. Jam 2, setelah makan aku beberes mejaku dan pamit kepada mereka. Langit sudah hujan, padahal masih siang. Di angkot, macet juga ternyata, tetapi semakin ke sini, aku sayangnya sudah terbiasa dengan menghadapi macet. Karena HPku lagi mati, aku menghabiskan waktu dengan memperhatikan orang orang dan kesibukan mereka masing-masing, mencoba menebak tujuan dan apa yang ada di pikiran mereka. Terkadang kita suka lupa untuk menikmati hal hal kecil, dan bersyukur akan apa yang kita punya, jika kita mulai menghargai dan bersyukur, dijamin mood akan menjadi lebih baik.

Akhirnya aku sampai di BTC setelah lama sekali, dan hujan masih turun dengan sangat deras. Aku menunggu reda selama 10 menit, lalu memutuskan untuk menembusnya saja, karena takut ditinggal saat pulang. Sesampainya di Smipa, lelah dan basah, ternyata sudah jam 4 lebih; aku berada di jalan 2 jam lebih dari Akatiga. Dan musik sorenya juga sudah mau kelar, sayang sekali, padahal sudah meluangkan waktu khusus dari Akatiga, hufff…

September 25 2016

Kobaran Semangat PON

Image result for PON XIX

Pekan Olahraga Nasional yang dilaksanakan di Bandung tahun ini, memiliki banyak sekali ajang menarik yang diselenggarakan. Pada hari Rabu, K11 berkesempatan untuk menonton ajang Wushu di GOR Pajararan. Seharusnya hari itu seharian kami berkegiatan di Cibunut, tetapi karena terget kami sudah terpenuhi, dan Bu Tini baru bisa berkoordinasi jam 12, kami memiliki waktu untuk menonton PON dulu.

Tempat diselenggarakannya Ajang Wushu untuk PON XIX ini adalah di GOR Pajajaran, dan tempat itu sangat penuh dengan penonton dan atlet dari seluruh Nusantara. Seharusnya Wushunya mulai jam 9, tetapi aku jam tujuh lebih juga sudah sampai di GOR. Waktu aku sampai disana, sudah ada Kinan, tapi tak lama setelah itu yang lain juga mulai datang. Ada banyak sekali murid dari sekolah lain yang datang, untuk menonton pertandingannya juga. Ternyata untuk menonton Wushu kali ini bayar 10.000, dikarenakan hari ini adalah finalnya, yang gratis hanya di hari hari awalnya saja. Yang sedang akan ditandingkan adalah Tuilien, yaitu duel di Wushu. Duel yang dilakukan itu sudah ada koreografinya, dan harus ditampilkan supaya terlihat seasli mungkin. Dari situ, juri yang akan menilai, skornya dari 1-10.

PON XIX ini membangkitkan semangat kompetitif Indonesia, penonton berteriak mendukung atlet dari berbagai daerah dan provinsi. Kebanyakan penonton mendukung atlet dari daerah asal mereka, maka atlet dari Jawa Barat mendapat dukungan dan tepuk tangan yang paling meriah, karena kebanyakan penonton yang datang tinggal di Bandung. Untuk para atlet, tekanan sangat besar untuk tampil secara maksimal dan membanggakan ‘suporter’ mereka.

Aku sudah cukup sering menonton pertandingan Wushu, dan aku tahu berapa sulitnya untuk mendapatkan nilai yang bagus dari juri. Ada banyak sekali hal yang harus diperhatikan dan disempurnakan, seperti kuda kuda, ketepatan jurus, kecepatan gerakan, dan alur dari gerakannya. Karena kali ini yang dipertandingkan adalah duel, fokus yang diperlukan atlet atlet tersebut sangat besar. Diperlukan banyak sekali latihan dan kepercayaan atas atlet pasangannya.

Menurutku pengalaman menonton Wushu ini sangat mengingatkanku akan potensi Indonesia dalam berolahraga, karena ada banyak sekali atlet luar biasa yang bertanding atas nama Indonesia.  PON adalah kesempatan besar untuk atlet yang ingin menambah prestasi dan kehormatan untuk provinsi mereka. Semoga semua orang menyadari bahwa PON ini jangan dianggap sebagai kompetisi/rivalri dengan daerah lain, tetapi perayaan semangat juang Indonesia yang tak akan pernah padam.

September 25 2016

Hari yang Lambat (Magang Minggu 4)

Image result for akatiga

Sudahkan empat minggu berlalu dari pertama magang? Terasanya sudah seperti rutin hadir di Akatiga. Minggu ini, hari Kamis aku tidak bisa datang ke Akatiga, karena semua peneliti disana ada rapat dengan sebuah donor. Jadi hari Kamis itu aku menghabiskan hari di Semi Palar, mengerjakan tugas tugasku yang lain. Tapi hari Jumat berjalan dengan normal, aku datang pada jam 8 dan menyiapkan mejaku. Hari Jumat ini, aku diberi beberapa set tugas baru yang dapat dikerjakan, seperti:

  • Membantu Ka Santi untuk mendaftar seluruh kegiatan/diskusi bulanan selama tahun 2016, lalu membuat draft tulisan deskripsi kegiatan (200-300 kata) untuk setiap kegiatan dan pilih fotonya. Semuanya dijadikan 1 file word untuk setiap kegiatan. Lihat contoh website akatiga bagian acara sebagai acuan. Pilih satu dulu, lalu jika sudah selesai diberikan  ke Charina dan Santi untuk direvisi. Buat target sendiri, dalam 1 minggu bisa menyelesaikan berapa?
  • Membantu Ka Santi untuk melakukan stock opname perpus (mendaftar buku – buku yang hilang ada di mana saat ini?) Laporannya diharapkan sudah ada untuk Rakor tanggal 21 bulan depan.
  • Membantu  Ka Santi untuk mengupdate FB AKATIGA: Target setiap 2 kali per minggu, jika ada berita yang relevan dengan penelitian AKATIGA, menaruhnya di FB dengan caption dan link hasil penelitian AKATIGA (sebelum diposting, materi diketuk palu oleh Santi dan Charina).

Saaat sudah waktunya pulang (Yaitu jam 5) turunlah hujan yang sangat deras. Karena harus jalan dulu sampai Simpang Dago, dan aku tak mau kehujanan. Setengah jam aku menunggu, dan hujannya belum reda, jadi aku memberanikan diri untuk menembus hujan saja. Angin yang dingin menemani perjalananku sampai Simpang Dago. Rencana awalnya aku ingin memanggil Gojek untuk mengantarku pulang, tetapi ketika aku mencoba memesannya, tak ada yang mengambil. Aku menyimpulkan bahwa jalanan sudah sangat sangat macet, karena supir gojeknya saja sudah tidak mau menembusnya. Jadi satu satunya pilihan yang tersisa adalah angkot.

Aku menaiki Caheum Ciroyom, dan baru jalan beberapa meter saja sudah berhenti karena macet di Babakan Siliwangi. Lama sekali jalan satu meter saja, dan untuk menyusuri Baksil yang biasanya memakan waktu 1 menit, memerlukan satu jam hari itu. Setelah itu angkotnya sudah tidak bisa bergerak, motor saja sudah tidak dapat menyalip, sangat macet sampai semua mobil mematikan mesinnya, lama sekali aku menunggu, sampai waktu seakan tidak ada artinya. Perjalanan yang biasanya memakan waktu total 30 menit, jadinya 3 jam lebih. Ake berangkat jam 5.30, dan sampai pada jam 9. Hari itu sangat melatih kesabaran buatku,

September 18 2016

Mewarnai Bandung Kembali

Image result for mural bandung siliwangi

Pembukaan Mural Bandung oleh Pak Ridwan Kamil

Apakah kamu pernah melewati tembok mural yang berada sepanjang Babakan Siliwangi? Tembok mural tersebut telah menjadi sebuah simbol kreatifitas dan ikon seni Bandung sejak lama sekali, selalu disana untuk dinikmati masyarakat. Minggu lalu, tembok mural tersebut dibersihkan dan dicat kembali dengan warna putih polos, untuk dicat kembali muralnya dengan desain dan seniman yang baru. Ini dikarenakan oleh salah satu upaya Bandung untuk ‘mempercantik diri untuk Pekan Olahraga Nasional.

Tembok Mural yang masih polos

KPB mendapat kesempatan langka untuk membantu membuat mural ini karena ajakan Bu Tini dari GSSI, yang bekerjasama dengan para penyelenggara Mural Bandung ini.  Jadi kita sangat bersemangat untuk membantu kegiatan ini. Kami berkumpul di Teras Cikapundung pagi pagi, dan bertemu dengan Bu Tini, disana kami dibagi menjadi beberapa kelompok untuk membantu beberapa tempat di tembok mural. Mural adalah gambar atau tulisan yang berada di tembok, mengandung unsur seni dan juga pesan. Jika dipikir, konsep mural sudah dapat ditelusuri sampai zaman batu, dimana manusia purba menggambar di tembok gua mereka.

Sang Seniman Ka Andi

Tembok Mural terkenal yang terletak di Babakan Siliwangi ini mempunyai panjang 476 meter, karena sangat panjang, tidak mungkin dibuat satu desain besar yang mencakup semuanya, jadi 476 meter tersebut dibagi menjadi 47 segmen, masing masing segmen memiliki seniman dan desainnya sendiri. Ada tiga tema besar, adat/tradisi, futuristik, dan alam, tema ini bertujuan untuk membuat kami mengingat tradisi kita sendiri, tetapi tetap berpikir ke depan dan peduli terhadap alam juga.

Ka Andi bersama kakak kakak yang membantu kami

KPB akan membantu 3 segmen disana, 24, 31 dan 41, aku akan membantu di segmen 41 dengan tema alam, dengan Kevin, Natasha, Alry dan Cissy. Seniman yang akan membantu kita bernama Ka Andi, yang mendesain segmen tersebut. Ka Andi menjelaskan ke kami mengenai konsep dari desain segmen 41, yaitu dunia Lumut. Desain ini adalah lumut yang dilihat secara makro, lengkap dengan beberapa embun. Konsep ini juga bisa dianggap sebagai versi lain kota Bandung, lengkap dengan gunung Tangkuban Perahu di backgroundnya.

Desain Awal Segmen 41

Setelah briefing yang singkat, dan cat dan kuas sudah datang, mulailah kita membuat sketsa di tembok putih. Ka Andi yang memulainya, dengan goresan pensil yang percaya diri, ia menggambar desainnya di tembok. Aku melihat bahwa di sekitar kami, baru kami yang mulai menggambar. Aneh tapi seru rasanya menjadi salah satu yang pertama untuk memulai kegiatan seni ini.

SAMSUNG CSC

Sketsa awal di tembok

Setelah mendiskusikan gambaran besar dan warna yang akan dipakai dengan Ka Andi, beranilah kami mulai untuk mewarnainya dengan cat. Awalnya kami sangat tidak percaya diri dan hati hati dalam mewarnainya, karena mural ini akan ‘dipajang’ selama satu tahun lebih di tempat yang sangat publik jadi aku tak mau membuat kesalahan. Tapi lama kelamaan, kami menjadi lebih berani dalam membuatnya…

Mulainya mewarnai mural

Semakin siang, matahari mulai bersinar dengan terang, membuat segmen kami menjadi sangat panas. untungnya ada bantuan pembagian konsumsi dari panitia, menyegarkan kami kembali. Setelah itu progres berjalan dengan konsisten, warna putih tembok lama lama semakin tertutup, sampai akhirnya hanya hijau bergradasi yang terlihat agar terkesan seperti lumut.

Pencampuran cat

Sangat menyenangkan melihat ratusan anak muda yang kreatif, penerus bangsa yang dengan semangat mewarnai kembali Bandung, sambil tertawa dan bercanda, tapi tetap terlihat sangat peduli dan serius dalam membuat mural ini. Aku banyak sekali bertemu dengan orang baru disana, dan sepertinya KPB dapat belajar banyak hal dari orang orang baru ini. Hampir tak bisa dipercaya bahwa mural yang telah kami buat ini akan terus berada disana untuk lama sekali, dan aku bangga sekali KPB dapat menjadi bagian dari gerakan kreatif yang ikonis untuk Bandung ini.